Rabu, 29 Agustus 2012

Alam Semesta Pararel

Sejak beberapa abad, sosok dan sifat alam semesta
selalu menjadi bahan perdebatan panas. Sepuluh
tahun terakhir ini, silang sengketa yang mencuat
adalah kemungkinan adanya alam semesta lain, di
luar alam semesta yang kita kenal.
Memang amat sulit untuk menerima aksioma adanya alam semesta lain. Pendukung utama teori alam
semesta pararel atau multiversum, seperti Prof.
Michio Kaku dari Universitas New York,
mengemukakan kemungkinan adanya banyak alam
semesta. Atau juga pakar astrofisika Inggris, Marcus
Chown yang meyakini, di luar batasan alam semesta yang nampak, terdapat banyak alam semesta
lainnya. Satu dari Miliaran Para pakar astrofisika juga membicarakan apa yang
disebut horizon batas pandang, yaitu batasan alam
semesta yang kita kenal. Teori yang dilontarkan
mengenai multiversum adalah bahwa alam semesta
yang dapat kita amati mmerupakan potongan kecil
dari alam semesta yang mungkin tidak ada batasnya.ΓΏ Alam semesta yang kita kenal boleh jadi
hanya merupakan satu dari miliaran alam semesta
lain, yang bagaikan gelembung sabun mengambang
di aliran waktu.

Pendukung lainnya dari teori multiversum adalah
pakar astronomi dari Universitas Princeton Max Tegmark PhD yang mengatakan, alam memberikan
cukup banyak indikasi bahwa alam semesta yang kita
huni hanya salah satu dari banyak alam semesta.
Akan tetapi harus diakui, sejauh ini pakar astronomi
belum mampu menyusun potongan-potongan
datanya, untuk membuat suatu gambar besar yang utuh. Teorinya Sulit Dibuktikan Amat sulit untuk membuktikan hipotesa multiversum
tersebut. Akan tetapi jika mencermati berbagai data
penelitian alam semesta, terlihat banyak faktor
pendukung. Misalnya saja misteri materi gelap dan
energi gelap, yang membuat alam semesta ini tidak
runtuh atau tercerai berai. Juga sesuai teori fisika kuantum, seluruh kemungkinan konfigurasi alam
semesta dapat muncul dan berulang tanpa batas.
Untuk dapat menerima gagasan tersebut, ahli
kosmologi Prof. Alexander Vilenkin dari Universitas
Tufts di Massachussets mengibaratkan, kita harus
melakukan latihan metafisik, karena teorinya tidak dapat langsung dibuktikan. Empat Model Universum Akan tetapi dengan hipotesa tersebut, kemungkinan
juga tidak cuma satu model multiversum. Sedikitnya
sudah ada empat kemungkinan, yakni multiversum
terbuka, yang mengacu pada teori inflasi kosmis tidak
ada batasnya. Kemudian multiversum seperti
gelembung sabun, yang dipicu oleh inflasi kosmis yang chaos. Selanjutnya hipotesa multiversum berupa
alam semesta pararel sebagai konsekuensi dari
hukum fisika kuantum. Dan terakhir adalah
multiversum yang masing-masing memiliki struktur
dan persamaan matematik berbeda. Bercermin Pada Kopernikus Semua hipotesa mengenai kemungkinan adanya alam
semesta lain kelihatannya memang sangat absurd.
Tapi Vilenkin mengajukan semacam analogi dengan
kasus Kopernikus, yang menyatakan bahwa matahari
sebagai pusat alam semesta. Lima abad lalu orang
juga sulit menerima gagasan abstrak bahwa bumi bukan pusat alam semesta, melainkan hanyalah
planet kecil diantara triliunan planet serupa di
milyaran galaksi di alam semesta yang kita kenal ini. Big Bang Jika mengacu pada teori fluktuasi kuantum atau teori
string, memang gagasan akan adanya banyak alam
semesta semakin mengental. Bahkan Vilenkin
mengajukan gagasan bahwa alam semesta yang kita
kenal mungkin hanya salah satu dari triliunan alam
semesta serupa. Dentuman besar yang melahirkan alam semesta yang kita kenal, mungkin hanya
semacam Big Bang lokal, yang berasal dari sebuah Big
Bang lebih dasyat lainnya. Anak Alam Semesta Artinya, mungkin saja ada sebuah dentuman besar
yang boleh disebut ibunya Big Bang, yang melahirkan
jutaan triliun alam semesta. Jadi ibaratnya, alam
semesta yang kina kenal hanyalah salah satu anak
dari alam semesta induk. Mengacu pada teori inflasi
alam semesta setelah dentuman besar, di batas atas pemuaian alam semesta terbentuk semacam
gelembung ruang dan waktu. Di kawasan ini semua
hukum alam seolah-olah tidak berlaku lagi. Dari
kawasan fluktuasi kuantuk semacam itu mungkin
saja lahir banyak sekali alam semesta baru. Jumlah Alam Semesta Hampir Tanpa Batas Hipotesa multiversum lainnya dilontarkan oleh
Leonard Susskind dari Universitas Stanford. Susskind
menarik konsekuensi dari teori string, yang
merupakan pengembangan dari model standar teori
partikel. Dari teori itu, didapatkan kemungkinan
bahwa jumlah alam semesta hampir tanpa batas. Skenario inflasi alam semesta akan menciptakan
mekanisme fisik, yang memungkinkan lahirnya jutaan
triliun gelembung alam semesta. Susskind bahkan
mengajukan teori, jumlah gelembung alam semesta
adalah antara 10 pangkat 100 sampai 10 pangkat
1500. Artinya, dari angka 1 dengan 100 nol sampai 1500 nol dibelakangnya. Sebagai gambaran, satu
triliun adalah angka 1 dengan 12 nol dibelakangnya. Jarak Alam Semesta Terdekat Max Tegmark menghitung secara matematis, alam
semesta berikutnya kemungkinan berjarak 100 miliar
pangkat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar